ekurnia82:

Copas dari group tetangga, kisah nyata…member odoj 56 (Balikpapan) memergoki seorang ibu Petugas kebersihan kota, dlm rehat siangnya yg terik,di pinggir jalanan berdebu …diisinya dgn tilawah😂
Berkali melewati ruas jalan ini,
Selalunya mendapati seorang bidadari,
Tengah asyik melahap kalam Illahi,
Khusyuk menyejukkan hati, tak terperi..

Duhai ibu Siti Khadijah akhirnya ia kukenali,
Penyapu jalanan yang buatku iri,
Di siang hari terik atau hujan badai,
Engkau baca Quran mu seperti tak peduli..

Memandangmu menjadikan renung diri,
Aku di dalam rumah nyaman terbuai,
Menunda nunda baca ayat-ayat nan suci,
Tak jarang beralasan sibuk sana sini..

Sedang dirimu wahai bu Siti,
Di tengah kejamnya sampah dan debu engkau khidmati,
Quranmu itu, yang lusuh kusut masai,
Lelah pasti, tapi imanmu jauh menghiasi.

Kepada bu Siti yang menginspirasi,
Semoga Allah senantiasa menggenggammu dlm keistiqomahan diri,
Memberimu khusnul khotimah di akhir hari,
Juga hadiahkan kepadamu syurga seluas langit dan bumi.

Semoga bisa jadi motivasi untuk qta semua……
✨✨✨💪💪💪💪 – View on Path.

ekurnia82:

Copas dari group tetangga, kisah nyata…member odoj 56 (Balikpapan) memergoki seorang ibu Petugas kebersihan kota, dlm rehat siangnya yg terik,di pinggir jalanan berdebu …diisinya dgn tilawah😂
Berkali melewati ruas jalan ini,
Selalunya mendapati seorang bidadari,
Tengah asyik melahap kalam Illahi,
Khusyuk menyejukkan hati, tak terperi..

Duhai ibu Siti Khadijah akhirnya ia kukenali,
Penyapu jalanan yang buatku iri,
Di siang hari terik atau hujan badai,
Engkau baca Quran mu seperti tak peduli..

Memandangmu menjadikan renung diri,
Aku di dalam rumah nyaman terbuai,
Menunda nunda baca ayat-ayat nan suci,
Tak jarang beralasan sibuk sana sini..

Sedang dirimu wahai bu Siti,
Di tengah kejamnya sampah dan debu engkau khidmati,
Quranmu itu, yang lusuh kusut masai,
Lelah pasti, tapi imanmu jauh menghiasi.

Kepada bu Siti yang menginspirasi,
Semoga Allah senantiasa menggenggammu dlm keistiqomahan diri,
Memberimu khusnul khotimah di akhir hari,
Juga hadiahkan kepadamu syurga seluas langit dan bumi.

Semoga bisa jadi motivasi untuk qta semua……
✨✨✨💪💪💪💪 – View on Path.

(via bungaca)

"Mutiara yang bersatu di kalung perhiasan, harus rela ditusuk jarum agar benang menyatukan. Berjama’ah mungkin melukai, tapi ia memberi arti."

- Salim A Fillah (via octaraisa)

"Serugi-rugi hidup adalah jika orang lain mengambil pelajaran dari apa yang kita alami; sementara diri sibuk mengagumi, dan atau menyesali."

- Salim A Fillah..

jangan mau jadi yang rugi.. (via octaraisa)

diary-sunflower:

auliabulkia:

islamic-quotes:

Guide

bagus kan ini diary-sunflower :))

Bunga Matahari kesukaaan kitaaa. JazakIllahu khoir auliabulkia ^^

diary-sunflower:

auliabulkia:

islamic-quotes:

Guide

bagus kan ini diary-sunflower :))

Bunga Matahari kesukaaan kitaaa. JazakIllahu khoir auliabulkia ^^

(Source: anotherbengali)

Kompetisi

Para pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apa ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Itulah sejarah yang sebenarnya.

Jika suatu ketika sejarah manusia memberi mereka posisi yang terhormat, itu hanyalah - seperti kata Rasulullah saw, ”berita gembira yang dipercepat.”Ridha Allah dan tempat yang terhormat di sisi-Nya. Itulah cita-cita sejati para pahlawan mukmin. Itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang mendorong lahirnya semangat kompetisi itu sangat berbeda dengan kompetisi di medan lain. Yang membedakannya adalah luas wilayah kompetisi yang tak terbatas, kecuali oleh batasan kebaikan itu sendiri. Sebab, hadiah yang disediakan untuk para kompetitor itu juga tak terbatas.

Dari mata air inilah para pahlawan mukmin sejati itu mereguk surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, ”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134).

Kompetisi adalah semangat yang melekat dalam diri para pahlawan, karena ini merupakan cara terbaik untuk mengeksploitasi potensi-potensi mereka. Maka, mereka membutuhkan medan kompetisi yang tak terbatas, sebab ketidakterbatasan itu akan mendorong munculnya semua potensi tersembunyi dalam diri mereka. Dan, medan kompetisi ini memang tidak terbatas, sebab medannya adalah “amal sholih”, dan amal sholih itu beragam serta tidak terbatas.

Kompetisi juga merupakan cara terbaik untuk membedakan “peringkat” para pahlawan sejati itu di mata Allah swt. Itulah sebabnya Allah swt menyebut generasi mukmin angkatan pertama sebagai assabiqunal awwalun (orang-orang pertama yang mendahului) atau semacam ’edvvanced competitor’. Itu pula sebabnya Allah swt memberi ganjaran pahala yang berbeda-beda sesuai dengan capaian masing-masing mereka.Indikator yang digunakan untuk menilai kompetisi itu adalah paduan-paduan yang harmonis antara waktu (kecepatan), kualitas, kuantitas, dan manfaat sosial dari setiap unit amal yang kita lakukan.

Maka, pahala mujahidin Badar berbeda dengan pahala para mujahidin dari peperangan lain selain Badar.Begitulah akhirnya para pahlawan mukmin sejati itu memaknai kebahagiaan. “Setiap kali ia menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagiaan mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna”. Anis Matta

"Adakalanya para penyeru kebenaran harus menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi, bila tiba saatnya menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan kecuali terbang, melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia."

- Salim A. Fillah (via trytobekaffah)

(via rara-ratna)

"Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada’. Para nabi dan syuhada’ iri kepada mereka. Ketika ditanya para shahabat, Rasulullah menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah dan saling kunjung karena Allah." HR. Tirmidzi"

- ..Dalam takdir ukhuwah kita, semoga terbangun kokoh menara cahaya tempat kita bercengkrama kelak di Surga. (via octaraisa)

"Dakwah itu butuh hati, bukan butuh piala. Partai Dakwah itu juga butuh hati, bukan sekadar butuh suara."

- Kalau hati sudah terbeli, apapun yang dibutuhkan pasti diberi. Partai Dakwah. (via herricahyadi)

"Manusia dipisah-pisahkan oleh jarak, oleh masa. Mereka saling mencari satu sama lain, hingga pada suatu saat mereka bertemu. Dan merasa saling menemukan"

-

Kurniawan Gunadi

(via kurniawangunadi)

(via ummuikrimah)

Musik :3

Saya suka musik :) Seringkali bukan karena syairnya. Melainkan dari melodinya. Mungkin sebagian orang menyukai lagu karena syairnya yang indah atau sesuai dengan suasana mereka, tapi saya bahkan bisa menyukai lagu tanpa mengerti syairnya.

Saya suka Muse, Metallica, Gary Moore, Led Zeppelin, Deep Purple, dan Radiohead :D

Kalau untuk Indonesia, saya suka Afgan, Alm Chrisye, Tompi, Letto, dan Bimbo. Playlist saya jarang nambah sih. Itu-itu aja.Tapi akhir-akhir ini playlist saya nambah nasyidnya Shoutul Harakah. Khusus untuk Bimbo, Letto dan Shoutul harakah, saya suka lagu mereka karena syairnya :3

Bagus medleynya :3

Satu-satunya cinta Vs Careless Whisper :D

"A brilliant opponent is better than a foolish friend: the former can make you see your mistakes with his naturally biting criticisms; the later will destroy you even in his grandiose praises!"

-

Wan Mohd Nor Wan Daud

Jangan Lupakan Target Akhir Dakwah Kita

oleh : Ust Hilmi Aminudin.

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.

Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).

Jadi, amal tsaqafi, orang jadi bertsaqafah; amal khairi, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yang mulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, style masyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.

Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapi yabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).

Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, , menjadi terdidik, atau menyejahterakan sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan, bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladziina kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.

Jangan merasa sukses menjadi pemimpin Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah yang sifatnya tarfih (kesejahteraan), atau tatsqif (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah. Harus begitu.

Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk Islam), nayrul fikrah (menyebarkan gagasan Islam), wa nasyrul harakah (penyebaran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.