"Menikah baginya bukanlah perkara
memperjuangkan seseorang atau siapa yang dia harapkan. Tapi perkara memperjuangkan masa depan dunia dan akhiratnya. Dan tidak selalu orang yang kita sukai, layak kita perjuangkan untuk masa depan dunia dan akhirat kita."

-

Nazrul Anwar

Buat akhirat, apapun itu, emang harus diperjuangkan

(via ridhwanah)

:”

(via tausendsunny)

(via octaraisa)

"Allah dengan ilmuNya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik bagi diri ini daripada pribadi kita sendiri. Berdoa bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha Tahu. Berdoa adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia ridhai semua yang Dia limpahkan, Dia ambil, maupun Dia simpan untuk kita."

-

ust salim a fillah

(via taufiqsuryo)

(via octaraisa)

Tulisan : Mereka yang Belajar dari Kesalahan

Pada saat menjalani kehidupan kita masing-masing. Mungkin kita pernah berselisih dengan seseorang. Pernah menyimpan kekesalan dan kekecewaan. Pernah merasa dikhianati atau ditinggalkan tanpa alasan. Pernah dibohongi bahkan mungkin dijauhi. Hingga hubungan kita dengan orang tersebut sempat hilang…

"Jangan biasakan untuk langsung melihat kesimpulan. Bisa jadi ada penjelasan berharga yang kau lewati."

- (via herricahyadi)

"Dengan berkembangnya arus faham humanisme di Barat, umat Islam melihat segala sesuatu dengan cara pandang kemanusiaan. Seakan dengan cara pandang yang humanis Islam menjadi berwajah rahmatan lil alamin. Dengan faham kemanusiaan (humanisme) yang ukurannya hanya sebatas pandangan manusia, maka agama dinilai dari cara pandang manusia, syariah bisa dianggap bertentangan dengan HAM. Sikap moralis dan manusiawi lebih dihargai daripada sikap religius. Pemimpin Muslim (jika salah sedikit) dicemooh, dihinakan dan dicari-cari kesalahannya, sedangkan pemimpin sekuler (meski salah besar) tetap dipuji-puji dan dihormati karena dianggap lebih manusiawi (humanis), lebih merakyat dan lebh santun dsb. (Bagaimana kuwalitas anda begitulah pemimpin kalian - al-Hadith)"

- Hamid Fahmy Zarkasyi

zulfikarfirdaus:

KISR ON DUTY Ramadhan #28

zulfikarfirdaus:

KISR ON DUTY Ramadhan #28

(via beningtirta)

"Telah berlalu 3 tahun bagi saudara-saudara kita di Suriah berupa kemiskinan dan penderitaan yang dialami orang-orang tua mereka, wanita-wanita mereka, anak-anak muda dan anak-anak kecilnya. Mereka ditimpa kesedihan dan kekhawatiran serta kelaparan, semoga Allah memberi jalan keluar pada musibah yang menimpa mereka."

-  @alqaryooti - Prof. Dr. ‘Ashim Al-Qoryuutiy, professor dlm bidang ilmu hadits di Univ. Al-Imam Muhammad bin Su’ud,Riyadh,KSA  30/5/2014 (via twitulama)

"Saya percaya bahwa anugerah yang kita terima belum tentu hasil usaha kita sendiri, tetapi karena doa dari orang lain terhadap kita—Allah menerima doanya. Sebab itu, jangan pernah ragu meminta doa kepada orang banyak lagi baik. Kita tak pernah tahu, siapakah di antara mereka yang menjadi alasan di balik anugerah tersebut."

- (via herricahyadi)

(via dianirmalaa)

"Europe: iPhone or Samsung?
Africa: Water or bread?
Syria: Living or death?"

- (via muslimismyidentity)

(via aranahea)

"Boleh jadi, Allah membuka pintu ketaatan kepadamu tetapi tidak membuka pintu pemakbulannya. Boleh jadi Allah mentakdirkan kamu membuat dosa, tetapi rupa- rupanya ia menjadi penyebab sampainya kita kepadaNya. -Ibnu Athaillah-"

- Subhaanallah :”’ (via cahaya1995)

(Source: drag-me-away, via cahaya1995)

"Kita Berdakwah ,
Orang Meludah .
Kita Tarbiah , Orang Menyampah .
Jangan Mengalah ,
Kita Seorang Khalifah
Teruskan Selagi Belum Menjadi Jenazah ."

- Teruskan Berdakwah Antum Semua =)

(Source: gadistudunglabuh, via maritsaniswah)

maritsaniswah:

Infiruu khifaafan wa tsiqoolan :3

maritsaniswah:

Infiruu khifaafan wa tsiqoolan :3

(Source: safwanitadlmkaca)

"Surga yang dipinta dalam do’a tak berbeda. Muslim Rohingya menukarnya dengan tangisan, sementara kita menangis karena putus pacaran.
Surga yang dimaksud serupa, namun anak-anak Gaza membelinya dengan hafalan, sementara anak-anak kita diajarkan nyanyian.
Surga yang didamba persis, namun militan Syiria meraihnya dengan sahid, smentara kita sedekah saja pelit, sebagian muslimah kenakan hijab rapi saja berat.
Surga yang didamba sama, namun mujahid Palestina meraihnya
dengan jihad, sementara sebagian kita tilawah saja ditunda-tunda, serta sholat diakhirkan.
-MI, 2014-"

- Status facebook mbak Annisatus Sholehah pagi ini, April 2014. (via didipratiwi)

(via dianirmalaa)

Ukhuwah dan Doa

Tiba-tiba tergerak menulis ini. Tadi pagi, ustadzah saya bilang “Dik, tidak titip doa ke teman-teman yang lagi mudik? Orang musafir doanya diijabah Insya Allah. “

Baiklah :)

Saya menitipkan doa yang benar-benar saya perlukan hari ini. Di tengah iman yang naik turun ini, doakan saya agar selalu diberi petunjuk oleh Allah, agar menemukan jalan kebaikan dan bisa istiqamah disana.

"Itu saja cukup? Ga ada doa dicepetin jodohnya nih?"

Teman saya bercanda. Kebetulan di kelompok saya mengaji, yang single tinggal segelintir hihi.

Doakan yang sama untuk jodoh saya mbak. Semoga ia senantiasa diberi petunjuk oleh Allah agar senantiasa di jalan kebaikan. Masalah kapan ketemunya, Allah lebih tahu kapan yang terbaik.

Sejujurnya baru kali ini saya merasakan ukhuwah yang sebenarnya, ketika kami saling mendoakan, saling mengingat di kala jauh. Memang benar kata seorang teman “Ukhuwah bukan sekedar kebersamaan di meja makan. Ia seharusnya semakin erat ketika dekat dan tak terkikis ketika jauh”. Saya bukan orang baik, tapi saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang baik yang senantiasa mengingat saudaranya dalam doa.

Terima kasih

*terharu*

Pepatah jawa: Ojo Gumunan, Ojo Kagetan lan Ojo Dumeh

Sumber: suaramerdeka.com. Ditulis oleh Eko Wahyu Budiyanto

Pandangan sekaligus panduan masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan yang mudah diucapkan namun sulit melaksanakannya. Kita pada umumnya cenderung memiliki ego, harga diri, emosi, dan rasa ingin tahu yang tinggi yang menyulitkan kita untuk menerapkan nilai filosofi tersebut. Di balik setiap budaya di Indonesia pasti terkandung nilai-nilai kebijaksanaan lokal, termasuk di antaranya budaya Jawa. Budaya Jawa yang sebagai salah satu budaya yang tertua di tanah air ini, juga mempunyai berbagai pepatah dan idiom yang berasal dari warisan ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Salah satunya yang paling tepat dengan kondisi sekarang ini adalah ungkapan “kuno” dari khasanah budaya Jawa, ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh.

Ojo gumunan, berasal dari kata ojo yang artinya jangan, dan gumunan, yang berasal dari kata gumun yang artinya heran. Ojo gumunan adalah bentuk larangan untuk tidak mudah kagum atau heran dengan perkembangan keadaan dan peristiwa atau benda yang terutama bersifat materi dan keduniawian. Masyarakat kita sekarang ini mudah sekali untuk gumun atau kagum terutama dengan berbagai bentuk pemberitaan atau tayangan melalui media massa. Kita juga gumun melihat kecanggihan teknologi negara lain, bahkan kemajuan ekonomi negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura. Bentuk kegumunan dan kekaguman ini sayangnya hanya sebatas gumun. Sebagian besar dari kita hanya menjadi penonton, berdiri di pinggir, bertepuk tangan, kadang misuh (memaki) dan mengumpat, tanpa pernah bisa ikut menentukan hasil akhir.

Filsafat Jawa ojo gumunan, bermakna janganlah kita selalu terkagum-kagum dengan hasil orang lain sedangkan kita hanya sekedar menjadi penonton. Ojo gumunan juga bermakna kita harus selalu memperbaiki diri dan menyesuaikan diri dengan keaadan dan perubahan keadaan sekitar. Kita harus menjadi subjek dan bukan sekedar objek.

Filosofi ojo kedua adalah ojo kagetan. Makna harfiah dari ojo kagetan ini adalah jangan mudah kaget. Suka terkaget-kaget kah kita? Jawaban sebagian besar dari kita pasti YA!. Akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa di negeri nusantara ini yang membuat seluruh penduduknya terkaget-kaget, baik peristiwa yang ditimbulkan oleh perseorangan, badan dan lembaga, juga yang lebih aneh lagi adalah pemerintah juga hobby membuat rakyatnya selalu terkaget-kaget dengan aneka kebijakan yang kemudian ditarik lagi atau tidak jelas implementasinya. Kita terkaget-kaget tatkala KPK tiba-tiba menangkap jaksa dan penyuapnya, juga terkaget-kaget ketika seorang anggota DPR terlibat dalam transaksi penyuapan bahkan video porno. Kita juga kaget ketika tanpa alasan tarif jalan tol tiba-tiba naik, bahkan harga cabe dan bawang putih juga melambung, dan semua alasannya karena BBM naik.

Filosofi ojo kagetan bermakna kita harus mawas diri terhadap perubahan sekeliling dan lingkungan kita. Ojo kagetan juga bermakna persiapan diri sendiri menghadapi perubahan sekeliling tanpa ikut berubah seperti sekeliling. Kalau kita sadar bahwa kita hidup di negeri yang serba ajaib dan aneh seperti Indonesia, maka seharusnya kita juga selalu mawas diri dan bersiap dengan aneka kejutan yang menyertai setiap perubahan. Dengan tidak terkaget-kaget terhadap kejutan-kejutan di sekeliling kita, kita akan lebih tegar dan sumeleh hidup di Indonesia.

Ojo Kagetan merupakan panduan agar kita selalu membabar terlebih dahulu terhadap segala yang terjadi. Analisis terlebih dahulu dari setiap masalah, baru tentukan strategi dan tindakan yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena jika kita menyelesaikan dengan bersikap reaktif, maka kemungkinan besar keputusan maupun tindakan kita masih mentah dan tidak mampu menyelesaikan inti masalahnya. Tantangan terbesar dari penerapan pandangan hidup ini ialah emosi dan harga diri kita, yang bisa ‘sak dheg sak nyet’ ketika terjadi sesuatu hal yang sensitif disekeliling kita.

Ojo terakhir adalah ojo dumeh. Dumeh bermakna mentang-mentang atau sombong. Ojo dumeh artinya janganlah kita sombong dalam menghadapi lingkungan disekeliling kita. Sombongkah kita? Hanya orang lain dan bangsa lain yang bisa menilai bangsa kita ini dumeh atau tidak. Tapi sadar atau tidak, kesombongan ini sebenarnya juga kita jumpai dari perilaku kita sehari-hari. Dumeh atau mentang-mentang kita kaya, dengan seenaknya kita menghambur-hamburkan uang untuk belanja secara konsumtif di mall-mall mewah. Dumeh bisa membayar, kita menggunakan listrik dan BBM secara berlebihan dan hanya untuk konsumtif. Dumeh lebih pandai dari rata-rata rakyat Indonesia, kita melakukan pembodohan secara terus menerus dengan informasi-informasi yang membingungkan dan menyesatkan. Dumeh menjadi rakyat kecil, dengan seenaknya kita hanya bisa mengkritik dan mencaci maki para pimpinan, meski mereka kadang benar sekali pun.

Ojo dumeh adalah salah satu ajaran dasar leluhur kita untuk selalu melakukan introspeksi diri terhadap lingkungan, sesama manusia, dan juga kepada Sang Pencipta. Dengan tidak dumeh, maka kehidupan sebenarnya akan lebih baik dan lebih tentram. Ojo dumeh merupakan larangan agar kita jangan bersikap sombong, pamer mengenai segala sesuatu yang kita miliki. Seharusnya kita bersikap andap asor mring sapodho, atau bersikap rendah hati terhadap sesama. Segala yang kita miliki baik itu harta, jabatan, pengetahuan, maupun istri, anak, sanak saudara, ini hanyalah sementara, dan titipan dari Yang Maha Kuasa. Kita diamanahkan untuk mengamalkannya agar menjadi milik kita yang hakiki kelak di alam sesudah kita meninggalkan dunia fana ini.